Anderson juga menilai studi ini memiliki kelebihan karena melibatkan pasien yang tidak mengonsumsi obat pencegahan migrain setidaknya selama tiga bulan terakhir. Hal itu dinilai dapat mengurangi kemungkinan hasil penelitian dipengaruhi oleh penggunaan obat.
Meski demikian, Anderson mengingatkan agar temuan tersebut tidak ditafsirkan secara berlebihan. Menurutnya, studi ini belum dapat membuktikan secara langsung bahwa migrain menyebabkan otak menjadi tua lebih cepat.
“Saya akan memperingatkan agar tidak menjual kesimpulan ini secara berlebihan. Studi ini tidak dapat membuktikan bahwa migrain secara harfiah menua otak dalam arti kausal,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ukuran efek dalam penelitian tersebut tergolong sederhana dan masih terdapat tumpang tindih antara kelompok pasien migrain dan kelompok kontrol. Selain itu, peserta penelitian berasal dari klinik sakit kepala khusus, sehingga kemungkinan besar melibatkan pasien dengan kondisi migrain yang lebih berat.
Menurut Anderson, selama serangan migrain terjadi, otak mengalami berbagai perubahan luas. Perubahan tersebut dapat memengaruhi pemrosesan sensorik, tidur, respons stres, peradangan, hingga fungsi tubuh lainnya.
“Jika seseorang sering mengalami migrain selama bertahun-tahun, tidak mengherankan jika otak mulai menunjukkan adaptasi struktural yang terukur,” katanya.
Namun, para ahli juga menekankan bahwa migrain tidak bekerja sendirian. Banyak kondisi lain yang sering menyertai migrain dan dapat ikut berpengaruh terhadap kesehatan otak serta proses penuaan.Kondisi tersebut antara lain kurang tidur, stres kronis, peradangan, depresi, kecemasan, penggunaan obat berlebihan, hingga gangguan gaya hidup. Faktor-faktor itu dapat memperburuk migrain sekaligus memengaruhi kesehatan otak dalam jangka panjang.
Ahli saraf dan spesialis sakit kepala dari Haven Headache and Migraine Center di California, Nada Hindiyeh, MD, mengatakan migrain kronis kemungkinan dapat berkontribusi pada percepatan penuaan biologis otak pada sebagian pasien. Namun, hal itu terutama terjadi ketika serangan migrain sering muncul dan tidak terkontrol dengan baik.
“Saya tidak berpikir migrain saja mempercepat penuaan otak,” ungkap Hindiyeh.
Menurut Hindiyeh, temuan ini tidak berarti setiap penderita migrain pasti akan mengalami neurodegenerasi atau demensia. Risiko tersebut tidak dapat disamaratakan untuk semua pasien.
“Migrain kronis kemungkinan berkontribusi pada penuaan otak biologis yang dipercepat pada beberapa pasien, terutama ketika serangan sering dan tidak terkontrol dengan baik. Tapi saya tidak berpikir ini berarti setiap pasien migrain berada di jalan menuju neurodegenerasi atau demensia,” jelasnya.