Penulis senior studi, Junhao Wen, PhD, asisten profesor ilmu radiologi di Columbia University Vagelos College of Physicians and Surgeons, mengatakan hubungan antara tidur dan penuaan perlu dipahami secara menyeluruh. Menurutnya, tidur tidak hanya berhubungan dengan otak, tetapi juga dengan kesehatan seluruh tubuh.Memahami hubungan tidur dan penuaan dalam konteks tubuh serta otak dapat membantu tenaga medis memberikan pendekatan yang lebih tepat. Hal ini penting karena orang dengan pola tidur pendek dan orang yang tidur terlalu lama mungkin membutuhkan penanganan yang berbeda.
“Karena masalah tidur mempengaruhi begitu banyak orang, penelitian ini dapat berdampak besar pada kesehatan masyarakat dan kualitas hidup bagi jutaan orang,” kata Michelle Drerup, PsyD, direktur pendidikan dan pengobatan tidur perilaku di Sleep Disorders Center Cleveland Clinic.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa hasil penelitian ini tetap perlu dipahami secara hati-hati. Salah satu keterbatasannya adalah data tidur yang digunakan berasal dari laporan mandiri peserta. Artinya, ada kemungkinan ketidakakuratan karena peserta mengingat atau memperkirakan sendiri durasi tidurnya.
Wen juga menegaskan bahwa temuan ini tidak bisa langsung dijadikan patokan mutlak untuk setiap individu. Kebutuhan tidur setiap orang dapat berbeda, tergantung usia, kondisi kesehatan, aktivitas, dan kualitas tidur yang dimiliki.
Tidur terlalu lama juga belum tentu menjadi penyebab langsung penuaan biologis. Dalam beberapa kasus, tidur berlebihan bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan lain yang belum terdeteksi. Kondisi seperti depresi, gangguan tidur, penyakit kronis, atau kelelahan berkepanjangan dapat membuat seseorang tidur lebih lama dari biasanya.
“Dengan tidur panjang, pesannya bukan berarti terlalu banyak tidur sedang meracuni Anda. Ini lebih kepada jika Anda secara konsisten tidur sembilan atau 10 jam dan masih merasa tidak sehat, tubuh Anda mungkin sedang mencoba memberi tahu sesuatu yang penting tentang kesehatan Anda,” jelas Leng.Sementara itu, kurang tidur dinilai memiliki hubungan yang lebih langsung dengan percepatan penuaan. Tidur yang terlalu sedikit dapat meningkatkan peradangan, mengganggu proses perbaikan sel, dan memengaruhi keseimbangan hormon dalam tubuh.
Wen menyebut kurang tidur dapat meningkatkan kadar kortisol dan aktivitas sistem saraf simpatik. Kondisi ini dapat memberi tekanan pada tubuh dan mempercepat penuaan sel di berbagai jaringan.
Untuk orang dewasa usia 18 hingga 60 tahun, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat merekomendasikan tidur setidaknya tujuh jam per malam. Namun, para ahli menekankan bahwa kualitas tidur juga sama pentingnya dengan durasi tidur.
Tidur yang sering terbangun, jadwal tidur yang tidak teratur, dan ritme sirkadian yang terganggu juga dapat berdampak buruk pada kesehatan. Karena itu, tidur cukup belum tentu memberi manfaat optimal jika kualitas tidurnya buruk.
Leng menyarankan agar masyarakat mulai memperbaiki kebiasaan tidur dengan menjaga konsistensi jam tidur dan bangun setiap hari. Tubuh memiliki jam biologis yang bekerja lebih baik ketika pola tidur dilakukan secara teratur.