Pada penderita ADHD, terapi biasanya difokuskan untuk membantu mengatur waktu, meningkatkan kemampuan organisasi, dan membangun rutinitas yang lebih terstruktur.Sedangkan pada penderita kecemasan, terapi bertujuan membantu mengendalikan rasa takut dan melatih cara menghadapi situasi pemicu kecemasan dengan lebih tenang.
Penelitian menunjukkan hingga 50 persen orang dewasa dengan ADHD juga mengalami gangguan kecemasan.
Sementara sekitar empat dari sepuluh anak dengan ADHD diketahui memiliki gejala kecemasan.
Jika kedua kondisi terjadi bersamaan, gejala ADHD biasanya juga menjadi lebih berat dan memengaruhi kualitas hidup sehari-hari.Karena itu, para ahli mengingatkan pentingnya deteksi dini agar penderita mendapatkan penanganan yang tepat.
Jika seseorang atau anak mengalami kesulitan fokus, mudah cemas, sulit tidur, gelisah berlebihan, atau perubahan perilaku yang mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasi dengan dokter, psikolog, atau psikiater sangat dianjurkan.
Dengan diagnosis dan penanganan yang tepat, ADHD maupun kecemasan dapat dikontrol sehingga penderitanya tetap bisa menjalani kehidupan yang produktif dan berkualitas.