“Kami memohon kepada Kapolda dan Kapolres agar kasus ini benar-benar dikawal. Peristiwa ini sangat memprihatinkan dan diduga dilakukan di luar batas kewajaran serta melanggar norma kemanusiaan. Kejadian ini bukan hanya melukai hati seorang ibu, tetapi juga menghancurkan masa depan anak yang sebelumnya bercita-cita menjadi seorang polisi wanita,” tegasnya.Sementara itu, MS, ibu korban, mengungkapkan bahwa kondisi anaknya CA hingga saat ini masih mengalami trauma akibat peristiwa yang dialaminya.
Ia juga menceritakan bahwa dirinya harus berjuang seorang diri menghidupi keluarganya dengan bekerja sebagai pemulung.
“Sehari-hari saya bekerja sebagai pemulung, penghasilannya tidak menentu. Paling banyak sekitar seratus ribu rupiah sehari,” ujarnya.
MS juga mengungkapkan bahwa anaknya sejak kecil memiliki cita-cita untuk menjadi Polisi Wanita (Polwan) dan bahkan telah mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi penerimaan anggota Polri pada tahun 2026.“Sejak kecil dia ingin menjadi Polwan. Dia sudah latihan olahraga, berenang, dan lari untuk persiapan. Bahkan bulan Februari ini dia berencana mendaftar, tetapi semuanya hancur setelah kejadian ini,” katanya dengan haru.
Keluarga korban berharap agar proses hukum dapat segera diselesaikan dan para pelaku mendapatkan hukuman setimpal atas perbuatannya.
“Kami hanya ingin kasus ini segera ditangani dan para pelaku dihukum sesuai dengan perbuatannya. Kami tidak meminta apa pun selain keadilan,” tutupnya.