MATAJAMBI.COM – Mengalami diare saat puasa tentu menjadi tantangan tersendiri. Kondisi ini bukan hanya membuat perut terasa mulas, tetapi juga bisa menyebabkan tubuh cepat lemas dan berisiko dehidrasi. Jika tidak ditangani dengan tepat, diare bahkan dapat memaksa seseorang membatalkan puasa.
Saat berpuasa, tubuh tidak menerima asupan cairan selama kurang lebih 13–14 jam. Sementara itu, diare membuat cairan dan elektrolit dalam tubuh terkuras lebih cepat.
Akibatnya, risiko pusing, lemah, hingga kekurangan cairan meningkat. Kondisi ini umumnya dipicu oleh makanan yang kurang higienis, konsumsi makanan pedas dan berminyak secara berlebihan, atau perubahan pola makan yang drastis saat sahur dan berbuka.
Lalu, apakah diare saat puasa harus langsung membatalkan ibadah? Tidak selalu. Jika gejalanya masih ringan dan tubuh terasa cukup kuat, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar puasa tetap berjalan.
Pertama, kenali tanda bahaya. Bila diare terjadi terus-menerus dan disertai lemas berat, pusing hebat, jantung berdebar, atau hampir pingsan, sebaiknya segera berbuka.
Tanda dehidrasi seperti mulut sangat kering, jarang buang air kecil, urine berwarna pekat, serta mata terlihat cekung juga menjadi sinyal untuk tidak memaksakan diri. Jika diare disertai demam tinggi, muntah tanpa henti, nyeri perut hebat, atau tinja bercampur darah, segera hentikan puasa dan periksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Jika kondisi masih tergolong ringan, penuhi kebutuhan cairan secara optimal saat berbuka hingga sahur. Minum air putih secara bertahap dengan total sekitar delapan hingga dua belas gelas dalam semalam. Konsumsi larutan oralit juga dapat membantu mengganti elektrolit yang hilang akibat diare.Selain cairan, perhatikan jenis makanan yang dikonsumsi. Pilih makanan yang mudah dicerna seperti bubur, nasi tim, kentang rebus, atau pisang.
Makanlah dalam porsi kecil terlebih dahulu, lalu tambah secara bertahap sesuai kondisi perut. Hindari gorengan, makanan pedas, santan kental, serta minuman berkafein atau bersoda karena dapat memperburuk iritasi usus.
Kebersihan makanan juga menjadi kunci. Pastikan makanan matang sempurna dan disimpan dengan baik untuk mencegah infeksi saluran cerna. Di samping itu, perbanyak istirahat agar tubuh memiliki waktu cukup untuk memulihkan diri.
Dengan penanganan yang tepat, diare saat puasa dapat diatasi tanpa harus selalu membatalkan ibadah. Namun, jika gejala memburuk atau muncul tanda dehidrasi berat, segera utamakan keselamatan dengan berbuka dan mencari pertolongan medis.
Menjaga kesehatan tetap menjadi prioritas utama agar ibadah Ramadan dapat dijalani dengan optimal dan penuh kenyamanan.