MATAJAMBI.COM - Sebagian orang dapat tertidur dengan pulas meskipun berada di lingkungan yang ramai. Namun, ada pula individu yang mudah terbangun akibat suara kecil atau perubahan cahaya. Kondisi tersebut dikenal dengan istilah light sleeper, yaitu seseorang yang memiliki pola tidur ringan sehingga mudah terganggu oleh rangsangan dari lingkungan sekitar.
Orang dengan kondisi ini biasanya merasa tidur kurang berkualitas meskipun durasi istirahat sudah cukup. Akibatnya, tubuh dapat terasa lelah, sulit berkonsentrasi, hingga menurunkan performa kerja atau aktivitas sehari-hari.
Light sleeper merupakan kondisi ketika seseorang lebih sering berada pada fase tidur ringan dibandingkan fase tidur dalam. Dalam siklus tidur normal, tubuh akan melewati beberapa tahap, termasuk fase tidur dalam yang berperan penting untuk memulihkan energi, memperbaiki sel tubuh, serta menjaga kesehatan otak.
Ketika seseorang jarang mencapai fase tidur dalam, kualitas istirahat menjadi berkurang. Hal inilah yang menyebabkan penderita light sleeper sering merasa tidak segar saat bangun tidur.
Beberapa tanda yang sering dialami light sleeper antara lain mudah terbangun karena suara kecil, cahaya, atau sentuhan ringan. Selain itu, mereka biasanya kesulitan untuk kembali tidur setelah terbangun di malam hari.
Penderita light sleeper juga sering merasa kurang puas dengan kualitas tidurnya meskipun telah tidur selama beberapa jam. Kondisi ini dapat memicu rasa kantuk di siang hari serta menurunkan konsentrasi dan produktivitas.
Gangguan tidur ringan juga membuat rutinitas tidur lebih mudah terganggu oleh hal-hal sederhana, seperti suara hujan, hewan di luar rumah, atau perubahan suhu ruangan.Bertambahnya usia memengaruhi struktur tidur seseorang. Pada orang dewasa dan lanjut usia, fase tidur dalam cenderung berkurang, sementara fase tidur ringan menjadi lebih dominan. Kondisi ini membuat seseorang lebih sensitif terhadap gangguan lingkungan.
Minuman berkafein seperti kopi, teh, atau minuman energi dapat meningkatkan kewaspadaan dan menghambat rasa kantuk. Efek kafein bahkan bisa bertahan selama beberapa jam setelah dikonsumsi.
Alkohol juga dapat memengaruhi kualitas tidur karena membuat pola tidur menjadi tidak stabil dan menyebabkan seseorang lebih mudah terbangun.
Lingkungan kamar tidur memiliki peran penting dalam kualitas istirahat. Ruangan yang bising, terlalu terang, atau memiliki suhu yang tidak stabil dapat membuat otak tetap aktif dan sulit mencapai tidur nyenyak.
Paparan cahaya biru dari layar ponsel, tablet, atau komputer dapat menghambat produksi hormon melatonin yang berfungsi mengatur siklus tidur. Kebiasaan ini membuat tubuh kesulitan mengenali waktu istirahat sehingga tidur menjadi lebih dangkal.