MATAJAMBI.COM - Sinar matahari memiliki peran penting bagi kesehatan tubuh. Selain membantu meningkatkan suasana hati, paparan matahari juga mendukung pembentukan vitamin D dan membantu mengatur pola tidur. Namun, terlalu lama berada di bawah sinar matahari tanpa perlindungan dapat menimbulkan risiko serius bagi kulit.
Paparan sinar matahari kerap dikaitkan dengan manfaat kesehatan, terutama dalam membantu tubuh memproduksi vitamin D. Nutrisi ini berperan penting dalam menjaga kekuatan tulang, mendukung sistem kekebalan tubuh, serta membantu fungsi tubuh secara menyeluruh.
Saat sinar ultraviolet atau UV mengenai kulit, tubuh akan merespons dengan memproduksi vitamin D secara alami. Sejumlah penelitian menunjukkan, bagi banyak orang, paparan sinar matahari sekitar 5 hingga 30 menit pada lengan dan kaki beberapa kali dalam seminggu sudah cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan vitamin D.
Dokter kulit dari Mount Sinai, New York, Joshua Zeichner, MD, FAAD, menjelaskan bahwa seseorang tidak perlu berjemur terlalu lama hanya untuk mendapatkan vitamin D. Penggunaan tabir surya juga tidak serta-merta membuat tubuh kehilangan kemampuan memproduksi vitamin D, karena penelitian menunjukkan penurunannya hanya sedikit pada orang yang memakai sunscreen.
Namun, tidak ada ukuran paparan sinar matahari yang benar-benar ideal untuk semua orang. Dokter kulit bersertifikat Hope Mitchell, MD, FAAD, dari Mitchell Dermatology, Ohio, menyebut kebutuhan setiap orang bisa berbeda.
Produksi vitamin D dari sinar matahari dipengaruhi berbagai faktor, seperti warna kulit, lokasi tempat tinggal, musim, hingga waktu paparan. Orang dengan warna kulit lebih gelap umumnya memiliki kadar melanin lebih tinggi. Melanin dapat mengurangi kemampuan kulit dalam memproduksi vitamin D dari sinar matahari, sehingga sebagian orang mungkin membutuhkan waktu paparan yang lebih lama.
Meski paparan matahari dalam jumlah terbatas dapat memberikan manfaat, para ahli tetap mengingatkan pentingnya kehati-hatian. American Academy of Dermatology menegaskan bahwa tidak ada tingkat paparan sinar UV yang benar-benar aman. Karena itu, pemenuhan vitamin D juga disarankan melalui makanan sehat dan suplemen jika diperlukan.Paparan sinar matahari mulai berisiko ketika intensitasnya cukup kuat hingga menyebabkan kulit menggelap atau terbakar. Dokter kulit bersertifikat Shamsa Kanwal, MD, menjelaskan bahwa dalam dunia dermatologi tidak ada istilah “kulit cokelat yang sehat”. Perubahan warna kulit akibat sinar matahari merupakan tanda adanya kerusakan akibat paparan UV.
Risiko kerusakan kulit juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti indeks UV, waktu paparan, durasi berada di luar ruangan, dan apakah kulit terlindungi atau tidak. Jika indeks UV berada pada angka tiga atau lebih, kulit sebaiknya dilindungi, terutama saat berada di bawah sinar matahari langsung atau beraktivitas di luar ruangan dalam waktu lama.
Bahkan ketika cuaca mendung, sinar UV tetap dapat menembus awan dan mengenai kulit. Karena itu, perlindungan kulit tetap diperlukan meski matahari tidak terlihat terik.
Paparan sinar matahari tanpa perlindungan dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penuaan dini, flek hitam, kerutan, kerusakan pembuluh darah kecil di bawah kulit, hingga kanker kulit.
Salah satu tanda awal kerusakan akibat matahari adalah kulit terbakar. Kondisi ini biasanya ditandai dengan kulit kemerahan, terasa kencang, perih, dan nyeri. Pada kasus yang lebih berat, sengatan matahari dapat memicu gejala seperti demam, mual, kelelahan, hingga kondisi yang dikenal sebagai keracunan sinar matahari dan memerlukan penanganan medis.