Ciri berikutnya adalah kebiasaan menjadikan diri sendiri sebagai pengecualian. Aturan berlaku untuk orang lain, tetapi selalu ada alasan mengapa mereka berbeda. Mereka merasa antrean, jadwal, atau komitmen bisa dilonggarkan khusus untuk mereka. Ini dikenal sebagai self serving bias, yaitu kecenderungan menilai situasi dengan cara yang menguntungkan diri sendiri.Selain itu, orang yang egois sering kesulitan benar benar merasa bahagia atas keberhasilan orang lain. Ucapan selamat biasanya disertai nada membandingkan atau sindiran halus. Fokus mereka cepat kembali pada diri sendiri, seolah kesuksesan orang lain adalah ancaman bagi harga diri mereka.
Dalam jangka panjang, perilaku seperti ini dapat merusak hubungan sosial. Orang orang di sekitar akan merasa tidak dihargai, lelah, dan akhirnya menjaga jarak. Ironisnya, banyak orang yang bersikap egois tidak menyadari bahwa merekalah penyebab hubungan itu merenggang.
Psikolog menekankan bahwa egoisme bukanlah sifat bawaan yang tidak bisa diubah. Dengan melatih empati, belajar mendengar tanpa menyela, serta membiasakan diri mempertimbangkan perasaan orang lain sebelum bertindak, seseorang bisa mengurangi kecenderungan ini. Kesadaran adalah langkah pertama untuk berubah.
Mengenali tanda tanda egoisme dalam diri sendiri bukanlah hal yang memalukan. Justru, itulah awal dari pertumbuhan emosional yang lebih sehat dan hubungan sosial yang lebih kuat.