“Kita tidak boleh lagi main kucing-kucingan. Semua hukum berlaku sama, tidak ada perlakuan khusus. Semua warga Merangin harus taat aturan,” tegasnya.
Tidak hanya fokus pada ekonomi, Bupati juga memberikan perhatian besar terhadap pendidikan anak-anak SAD. Ia memastikan tidak boleh ada lagi anak SAD yang putus sekolah karena alasan ekonomi.
“Anak-anak harus sekolah. Kalau tidak punya baju, tas, atau sepatu, biar Bupati yang siapkan. Saya ingin anak-anak SAD mendapat perlakuan yang sama di sekolah,” ujar M. Syukur disambut antusias warga.
Bupati bahkan mengungkapkan rencana pembangunan Sekolah Rakyat berasrama dari pemerintah pusat dengan anggaran mendekati Rp300 miliar yang diprioritaskan bagi anak-anak SAD. Seluruh kebutuhan pendidikan hingga biaya hidup nantinya akan ditanggung negara.
Menurutnya, perubahan pola pikir dan pendidikan menjadi kunci utama mewujudkan “Merangin Baru” yang lebih maju dan setara.
“Siapa tahu 20 atau 30 tahun lagi yang menjadi Bupati Merangin adalah anak dari Suku Anak Dalam. Tapi syaratnya harus sekolah dan kuliah,” ucapnya memberi motivasi.
Di akhir kegiatan, Bupati M. Syukur juga berjanji akan memperbaiki akses jalan menuju kawasan Dam Betuk untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat sekitar.
Ia berharap pengelolaan wisata nantinya dapat dilakukan bersama antara warga desa dan masyarakat SAD agar tercipta keharmonisan dan tidak memunculkan konflik sosial di tengah masyarakat.