MATAJAMBI.COM - Viral di media sosial rekaman momen protes peserta dalam ajang Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang diduga diwarnai penilaian tidak objektif dari dewan juri.
Video tersebut ramai dibagikan di berbagai platform setelah salah satu peserta dari SMAN 1 Pontianak mempertanyakan keputusan juri yang memberikan nilai minus terhadap jawaban timnya, padahal isi jawaban dinilai sama dengan kelompok lain yang justru memperoleh poin sempurna.
Perdebatan dalam lomba edukasi tingkat provinsi itu langsung memicu polemik di media sosial. Banyak netizen menilai ada ketidakkonsistenan dalam sistem penilaian yang diterapkan dewan juri.
Rekaman acara tersebut sebelumnya diketahui tayang melalui kanal YouTube resmi MPR RI pada Minggu (10/5/2026). Potongan video yang memperlihatkan peserta menyampaikan keberatan kepada juri kemudian viral dan menjadi bahan perbincangan publik.
Sorotan publik semakin meluas setelah influencer sekaligus aktivis muda Indonesia, Salsa Erwina Hutagalung, ikut menanggapi kontroversi tersebut melalui akun Instagram pribadinya, @salsaer.
Dalam unggahannya pada Selasa (12/5/2026), Salsa mengaku menerima cerita langsung dari para siswa SMAN 1 Pontianak terkait suasana lomba dan insiden yang terjadi di hadapan dewan juri.
Ia menyebut para siswa menghubunginya dengan perasaan cemas dan kecewa setelah perjuangan panjang mereka dalam mempersiapkan kompetisi tersebut.Menurut Salsa, para peserta telah mengorbankan banyak waktu dan tenaga demi bisa tampil di babak final LCC Empat Pilar MPR RI. Ia menilai perjuangan para siswa seharusnya mendapat penghargaan yang layak, bukan justru menuai kontroversi akibat persoalan teknis penilaian.
Perempuan yang kini menetap di Aarhus, Denmark itu juga menyoroti alasan dewan juri yang menyebut artikulasi atau kejelasan pengucapan peserta menjadi penyebab perbedaan poin dalam lomba tersebut.
Salsa menilai hal mendasar seperti kualitas pendengaran juri seharusnya tidak menjadi faktor yang merugikan peserta, terlebih dalam kompetisi akademik tingkat bergengsi.
Ia bahkan menyindir bahwa di titik tertinggi perlombaan, yang dipertarungkan seharusnya kemampuan dan merit peserta, bukan sekadar persoalan apakah juri mendengar jawaban dengan jelas atau tidak.
Tak hanya itu, Salsa juga memberikan apresiasi terhadap keberanian para siswa yang tetap menyampaikan protes secara langsung di atas panggung meski berada di bawah tekanan dan disaksikan banyak penonton.