MATAJAMBI.COM - Emosi tidak stabil menjadi salah satu kondisi yang semakin sering dialami masyarakat modern seiring meningkatnya tekanan hidup, tuntutan pekerjaan, dan dinamika sosial yang terus berubah.
Perubahan suasana hati yang naik turun secara tiba tiba bukan hanya membuat seseorang merasa lelah secara mental, tetapi juga dapat berdampak langsung pada kualitas hubungan, kemampuan bekerja, hingga kesehatan secara keseluruhan. Ketika emosi sulit dikendalikan, seseorang bisa merasa mudah tersinggung, cepat marah, atau tiba tiba merasa sedih tanpa alasan yang jelas.
Secara alami, emosi merupakan bagian penting dari kehidupan manusia. Perasaan bahagia, sedih, takut, marah, atau cemas adalah respon otak terhadap situasi, pengalaman, serta pikiran yang dihadapi setiap hari.
Emosi berfungsi sebagai sistem peringatan dan penyeimbang yang membantu seseorang menilai kondisi sekitar, mengambil keputusan, serta membangun interaksi sosial. Namun ketika mekanisme ini terganggu, respons emosi dapat menjadi berlebihan dan tidak seimbang.
Dalam situasi tertentu, perubahan emosi yang terjadi secara mendadak sebenarnya masih tergolong wajar. Misalnya ketika seseorang menerima kabar mengejutkan, menghadapi tekanan pekerjaan, atau harus beradaptasi dengan lingkungan baru.
Akan tetapi, bila perubahan suasana hati terjadi terlalu sering, terasa sangat kuat, dan sulit dikontrol hingga mengganggu aktivitas harian atau hubungan dengan orang lain, maka kondisi tersebut patut menjadi perhatian serius.
Salah satu pemicu utama emosi tidak stabil adalah stres yang berlangsung terus menerus. Tekanan dari pekerjaan, masalah keuangan, konflik keluarga, maupun tuntutan sosial dapat memicu lonjakan hormon stres di dalam tubuh. Ketika hormon ini meningkat secara berkepanjangan, keseimbangan zat kimia di otak terganggu sehingga seseorang menjadi lebih mudah cemas, marah, atau merasa tertekan tanpa sebab yang jelas.
Kurangnya waktu tidur juga menjadi faktor penting yang sering diabaikan. Saat tubuh tidak mendapatkan istirahat yang cukup, fungsi otak dalam mengatur suasana hati dan mengelola emosi menjadi melemah. Inilah sebabnya orang yang kurang tidur cenderung lebih sensitif, cepat tersinggung, dan lebih mudah merasa sedih atau kewalahan dalam menghadapi situasi kecil.
Perubahan hormon turut berperan besar dalam naik turunnya emosi. Masa pubertas, siklus menstruasi, kehamilan, hingga menopause dapat menyebabkan fluktuasi hormon yang memengaruhi kestabilan suasana hati. Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah menangis, tersinggung, atau merasa gelisah tanpa pemicu yang jelas.
Gangguan kecemasan juga menjadi penyebab yang cukup sering memicu emosi tidak stabil. Orang yang mengalami kecemasan berlebihan biasanya dipenuhi rasa khawatir dan pikiran negatif sehingga sulit merasa tenang. Akibatnya, emosi dapat berubah dengan cepat, mulai dari tegang, takut, hingga panik meski berada dalam situasi yang sebenarnya aman.
Pada kondisi yang lebih berat, gangguan bipolar dapat menyebabkan perubahan suasana hati yang ekstrem. Seseorang dapat merasa sangat bersemangat dan penuh energi pada satu waktu lalu berubah menjadi sangat sedih dan kehilangan motivasi di waktu lain. Perubahan ini sering kali terjadi tanpa pola yang jelas dan membuat emosi terasa tidak terkendali.