Metronews

Tak Bisa Ditawar, Masyarakat Adat Jambi Nyatakan Penutupan Helen’s Play Mart Harga Mati

0

0

matajambi |

Sabtu, 03 Jan 2026 13:43 WIB

Reporter : Adri

Editor : Adri

Gelombang Aksi Jilid II Menguat, Masyarakat Adat Tegaskan Penutupan HPM Tak Bisa Ditawar - (matajambi.com)

Berita Terkini, Eksklusif di Whatsapp

+ Gabung

KOTA JAMBI, MATAJAMBI.COM – Tekad masyarakat adat Melayu Jambi untuk menutup operasional Helen’s Play Mart (HPM) kian menguat. Seruan tersebut kembali menggema usai konsolidasi besar yang digelar di Masjid Agung Al-Falah, yang menjadi titik berkumpulnya elemen adat dalam mematangkan rencana gelombang aksi jilid II.

Dalam pertemuan tersebut, para tokoh adat dan koordinator lapangan Aliansi Masyarakat Adat Melayu Jambi Bersatu (ALAT JITU) menegaskan bahwa perjuangan menjaga marwah adat tidak bisa ditawar dengan alasan apa pun, termasuk kepentingan ekonomi. Mereka menilai keberadaan HPM telah mencederai nilai historis, budaya, serta norma adat Melayu Jambi yang diwariskan turun-temurun.

Salah satu pernyataan keras disampaikan dalam forum konsolidasi tersebut, bahwa masyarakat adat baru layak disebut pejuang adat apabila berani berdiri dan melawan setiap bentuk upaya yang dianggap merendahkan martabat budaya Jambi. Adat dan budaya, menurut mereka, tidak boleh diinjak-injak demi keuntungan segelintir pihak.

Ketua PRAJA RMJ Kota Jambi, Rd Syah Iran Syam, menyerukan agar panji-panji adat kembali dikibarkan di tengah masyarakat. Ia mengajak seluruh elemen adat dan generasi muda untuk ikut bergerak memperkuat nilai-nilai budaya Melayu Jambi.

Baca Juga:

Tak Digubris Usai Demo, Masyarakat Adat Jambi Siap Gelar Aksi Lebih Besar Tutup Helen’s

“Kibarkan semangat adat di tengah masyarakat. Ajak semua yang peduli, karena damai dan makmurnya negeri ini sangat bergantung pada kuat atau lemahnya adat yang kita jaga,” tegasnya, Jumat 02 Januari 2026.

Menurutnya, gerakan ALAT JITU tidak semata-mata bertujuan menutup HPM. Lebih dari itu, gerakan ini diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang bangga, cinta, dan berani membela adat serta budaya Melayu Jambi di tengah arus perubahan zaman.

Rd Syah Iran juga menekankan bahwa perjuangan menutup HPM di Tanah Pilih Pusako Betuah, yang disebut sebagai titik nol historis adat Jambi, membutuhkan keberanian dan konsistensi. Ia menyebut, tuntutan penutupan HPM merupakan sikap final yang tidak bisa dinegosiasikan.

“Menutup HPM adalah harga mati. Ini bukan sekadar aksi, tapi ujian nyali bagi kita semua sebagai masyarakat adat yang menjunjung kehormatan leluhur,” ujarnya dengan nada tegas.

Baca Juga:

Tak Perlu Buru-Buru Punya Pasangan, Resolusi Jomblo Ini Bikin Hidup Lebih Bermakna

Selain seruan moral, ALAT JITU juga menyiapkan langkah-langkah konkret untuk menekan pihak-pihak yang selama ini dinilai hanya mengatasnamakan pembela adat tanpa bukti nyata di lapangan. Barisan masyarakat adat pun terus membesar, seiring meningkatnya kesadaran kolektif untuk mempertahankan kesucian nilai budaya di tanah Jambi.

Mereka menilai, penggunaan kawasan yang dianggap memiliki nilai sakral adat untuk aktivitas hiburan malam yang mengandung unsur maksiat tidak dapat dibenarkan. Oleh karena itu, tuntutan penutupan permanen HPM terus didorong agar segera direalisasikan.

“Respons dari semua elemen kami tunggu. Jika tuntutan ini terus diabaikan, masyarakat adat siap bergerak menggunakan mekanisme dan hukum adat yang berlaku,” pungkasnya.

Hingga kini, gelombang dukungan terhadap aksi jilid II terus mengalir dari berbagai lapisan masyarakat, menandai bahwa isu penutupan HPM telah berkembang menjadi gerakan moral dan budaya yang semakin luas di Kota Jambi.

Sumber :

Share :

KOMENTAR

Konten komentar merupakan tanggung jawab pengguna dan diatur sesuai ketentuan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Komentar

BERITA TERKAIT


BERITA TERKINI


BERITA POPULER