Lifestyle

Profesi Programmer Terancam AI? Perkembangan ChatGPT dan Gemini Picu Kekhawatiran Baru

0

0

matajambi |

Selasa, 09 Jun 2026 10:35 WIB

Reporter : Adri

Editor : Adri

Profesi Programmer Terancam AI? Perkembangan ChatGPT dan Gemini Picu Kekhawatiran Baru - (MATAJAMBI.COM)

Berita Terkini, Eksklusif di Whatsapp

+ Gabung

MATAJAMBI.COM – Kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin mengubah lanskap dunia kerja. Setelah sebelumnya banyak profesi seperti penulis, akuntan, pengacara, hingga layanan pelanggan disebut-sebut terancam tergantikan AI, kini perhatian mulai tertuju pada profesi yang justru selama ini dianggap paling aman: insinyur perangkat lunak atau software engineer.

Ironisnya, para pengembang teknologi yang selama ini membangun sistem AI kini mulai mempertanyakan masa depan profesi mereka sendiri. Seiring kemampuan AI yang berkembang pesat, muncul kekhawatiran bahwa teknologi tersebut suatu saat mampu mengambil alih sebagian besar pekerjaan pemrograman.

Sejak kemunculan model kecerdasan buatan generatif seperti ChatGPT, Gemini, dan Claude, kemampuan AI dalam menulis kode komputer berkembang sangat cepat.

Banyak perusahaan teknologi kini memanfaatkan AI untuk membantu proses pengembangan perangkat lunak, mulai dari menyusun kode, memperbaiki kesalahan program (debugging), hingga memberikan solusi teknis yang sebelumnya hanya dapat dilakukan oleh programmer manusia.

Kondisi ini memicu pertanyaan besar di kalangan industri teknologi: apakah profesi software engineer masih akan dibutuhkan dalam beberapa tahun mendatang?

Kekhawatiran tersebut semakin menguat setelah CEO Anthropic, Dario Amodei, pada Maret 2025 memprediksi bahwa AI akan mampu menulis hingga 90 persen kode pemrograman dalam waktu singkat dan bahkan berpotensi menghasilkan hampir seluruh kode secara otomatis dalam beberapa tahun ke depan.

Meski pernyataan itu menuai pro dan kontra, banyak pihak sepakat bahwa perkembangan AI memang sedang bergerak dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Meski AI mampu menghasilkan kode dengan cepat dan akurat, para ahli menilai teknologi tersebut masih memiliki keterbatasan yang cukup signifikan.

AI memang unggul dalam mengolah data, mengenali pola, dan menyelesaikan tugas-tugas teknis yang berulang. Namun, teknologi ini belum mampu sepenuhnya memahami konteks bisnis, kebutuhan pengguna, serta dinamika organisasi yang kompleks.

Dalam pengembangan perangkat lunak modern, kemampuan memahami masalah nyata dan merancang solusi yang tepat justru menjadi aspek paling penting.

Di sinilah peran manusia masih sangat dibutuhkan.

Software engineer tidak hanya bertugas menulis kode, tetapi juga melakukan analisis kebutuhan pengguna, memastikan kualitas produk, melakukan pengujian sistem, hingga mengambil keputusan strategis yang membutuhkan pertimbangan logis dan etis.

Sumber :

Share :

KOMENTAR

Konten komentar merupakan tanggung jawab pengguna dan diatur sesuai ketentuan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Komentar

BERITA TERKAIT


BERITA TERKINI


BERITA POPULER